Summarize the post with AI

Akad nikah mereka berlangsung sederhana di bulan Syawal tahun ke-10 kenabian, justru di bulan yang dianggap sial oleh masyarakat Arab jahiliah. Rasulullah dengan penuh kelembutan tidak merenggut masa kecil Aisyah. Ia dibiarkan tetap tinggal di rumah ayahnya, bermain dan tumbuh secara alami, hingga benar-benar siap lahir dan batin untuk memikul peran agung sebagai Ummul Mukminin.

Kehidupan rumah tangga mereka di Madinah jauh dari kemewahan. Kamar Aisyah hanyalah bilik tanah liat yang menempel pada dinding Masjid Nabawi, begitu sempit hingga Rasulullah harus menepuk kaki istrinya agar dapat bersujud saat salat malam. Pernah selama dua bulan penuh tidak ada api yang dinyalakan untuk memasak. Kurma dan air adalah menu sehari-hari. Namun di rumah yang lapar itu, cinta bersinar lebih terang dari matahari.

Rasulullah adalah suami yang paling romantis. Ia pernah mengajak Aisyah berlomba lari di tengah hamparan pasir, mengangkat jubahnya dan berlari sekuat tenaga melawan istri mudanya itu yang kala itu berhasil mengalahkannya. Bertahun kemudian lomba itu terulang, kali ini Nabi yang menang, dan dengan senyum jenaka ia menepuk bahu Aisyah sambil berkata bahwa kemenangan itu adalah balas dendam atas kekalahan yang lalu.

Namun cinta Aisyah bukan hanya untuk tawa dan kebahagiaan. Ia juga untuk darah dan air mata. Saat Perang Uhud berkobar dan situasi berbalik kacau, Aisyah tidak bersembunyi di balik tembok Madinah. Ia berlari di antara mayat dan prajurit yang sekarat, memanggul kirbat air berat di punggungnya, menuangkan air ke mulut para pejuang yang terluka, lalu kembali lagi ke sumber air, berulang-ulang tanpa henti.



Follow Widget