Summarize the post with AI

Dari situ, Dedi Mulyadi membawa hadirin pada perenungan mendalam mengenai prinsip hidup dan hubungannya dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta hukum Tuhan. Ia mengungkapkan bahwa prinsipnya adalah berpegangan pada “kitab” dalam pikiran dan perasaannya, yakni bisikan hati yang terjaga dari puasa. Dedi menyoroti fenomena ketaatan ritual masyarakat Indonesia—seperti antrean panjang untuk umrah dan haji—tetapi ia merasa ada dua hal yang hilang dan tercerabut dari tradisi agama.

“Ritualitas kita sudah sangat taat… Tetapi ada dua hal yang hilang tercerabut dalam tradisi agama kita adalah kita mencintai Tuhan tapi lupa terhadap hukum Tuhan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa hukum Tuhan yang paling sejati, yang tidak perlu ditafsirkan atau melahirkan mazhab, adalah hukum alam. Hukum matahari, tanah, air, dan udara tidak akan pernah berubah. Menurut Dedi, mencintai Allah berarti tunduk dan patuh pada kausalitas, pada sebab akibat, atau hukum universal alam.

Melanjutkan kritiknya, Dedi Mulyadi melontarkan gugatan seorang nasionalis sejati. Dengan mata berkaca-kaca, ia menyatakan bahwa seorang nasionalis sejati akan menangis ketika hutannya dibabat, hulu-hulu sungainya diuruk, dan mata airnya makin mengering. Ia secara gamblang menyatakan bahwa pengakuan sebagai pencinta NKRI dan nasionalis akan runtuh jika membiarkan bencana ekologis ini terjadi.

“Kalau kita mengaku mencintai NKRI, mengaku menjadi nasionalis, membiarkan hutan dibabat, membiarkan sungai diuruk, membiarkan laut diuruk, dan membiarkan mata air mengering. Saya katakan, Anda pembohong dan Anda tidak mencintai Indonesia,” tegasnya, menyindir keras para pihak yang mengklaim diri sebagai patriot namun abai pada lingkungan.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________