Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, JAKARTA – Seruan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti agar para pelajar mulai membiasakan diri berjalan kaki atau bersepeda menuju sekolah muncul pada momen yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Di tengah bayang-bayang krisis energi global dan spekulasi kenaikan harga bahan bakar minyak di dalam negeri, imbauan tersebut menyentuh dimensi yang jauh lebih luas dari sekadar urusan transportasi anak sekolah.
Mu’ti menyampaikan pandangannya secara terbuka, mendorong siswa yang berdomisili tidak jauh dari sekolah untuk mengoptimalkan moda transportasi sederhana yang sempat kembali hidup pada masa pandemi COVID-19. “Kalau yang rumahnya dekat dari sekolah dan kira-kira aman dan nyaman, tidak ada salahnya jalan kaki atau kembali kepada kebiasaan bersepeda selama masa COVID. Itu kan sehat dan juga bisa hemat energi,” ujarnya sebagaimana dikutip Antara, Rabu, 1 April 2026.
Tidak berhenti di situ, Mu’ti turut mendorong pemerintah daerah untuk berbenah serius dalam hal layanan transportasi publik. Menurutnya, ketergantungan pelajar pada sepeda motor berakar langsung dari minimnya jangkauan angkutan umum di lingkungan tempat tinggal mereka. “Sekarang ada kecenderungan sebagian anak-anak lebih nyaman pakai sepeda motor. Ini tantangan bagi pemerintah daerah,” tegasnya.
Pernyataan Mu’ti itu berhadapan langsung dengan potret mobilitas pelajar Indonesia yang sesungguhnya. Riset tahun 2024 mencatat sekitar 63 persen pelajar Indonesia masih mengandalkan kendaraan pribadi untuk pergi ke sekolah, sementara angkutan umum hanya digunakan oleh sebagian kecil, bahkan menurut riset Kompas angkanya tidak sampai 10 persen. Pada jenjang sekolah dasar, mayoritas siswa diantar orang tua, mencapai sekitar 70 persen. Ketika memasuki usia SMP dan SMA, penggunaan sepeda motor, bahkan sebelum usia yang semestinya, menjadi pemandangan yang kian lumrah.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.