Summarize the post with AI
PUNGGAWAVIDEO, SANYA, Suasana Ramadan terasa hangat di tengah komunitas Muslim Utsul, keturunan Champa yang telah lama menetap di Pulau Hainan. Menjelang sahur, sebuah restoran halal milik Muslim dari Yunnan menyiapkan lebih dari 100 porsi makanan gratis setiap hari. Para relawan datang dari berbagai daerah di Tiongkok, bahkan rela terbang jauh dengan biaya sendiri, demi ikut berbagi.
Dapur sederhana itu menjadi ruang pertemuan lintas budaya, tempat orang-orang yang awalnya tak saling mengenal kini memasak, bercengkerama, dan membangun persahabatan. Hidangan yang disajikan pun beragam, dari masakan Yunnan hingga Xinjiang, mencerminkan kekayaan tradisi Muslim di negeri tersebut.
Bagi sang pemilik, berbagi sahur adalah wujud nilai Ramadan: merasakan lapar, menumbuhkan empati, dan membantu sesama, terutama lansia dan musafir. Antrean panjang menjelang subuh menjadi bukti bahwa kepedulian mampu melampaui batas daerah, bahasa, dan latar belakang.
Di sini, Ramadan bukan sekadar ibadah, tetapi juga kisah tentang solidaritas, kemanusiaan, dan persatuan yang hidup dalam keberagaman.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.