Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, SOLO – Di tengah hiruk-pikuk Kota Solo yang dihiasi lampion Ramadan dan perayaan Imlek yang berdekatan, sebuah tradisi kuliner berusia puluhan tahun terus bertahan. Masjid Darussalam Jayengan menjadi saksi bisu perjalanan panjang bubur samin khas Banjar yang kini ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2025.
Akar Sejarah dari Tanah Banjar
Kisah bubur samin di Solo dimulai sekitar tahun 1965, bersamaan dengan berdirinya Masjid Darussalam. Pendiri masjid yang akrab disapa Mbah Jayengan merupakan abdi dalem Keraton Solo sekaligus perantau asal Banjar, Kalimantan Selatan. Kehadirannya membuka jalan bagi gelombang migrasi suku Banjar ke Solo, yang kemudian banyak berprofesi sebagai pedagang emas dan permata.
“Dulu banyak perantau dari Selatan yang hijrah ke sini. Ada yang sukses, ada yang belum. Para pedagang yang berhasil kemudian sepakat menggelar takjil bersama di Masjid Darussalam,” ungkap salah seorang pengurus masjid mengenang awal mula tradisi ini.
Resep Rahasia Turun-Temurun
Yang membedakan bubur samin Jayengan dengan bubur pada umumnya adalah penggunaan ghee atau minyak samin sebagai bahan utama. Bubur ini diolah dengan campuran kaldu daging sapi, santan, sayuran, dan rempah-rempah rahasia yang hanya diwariskan secara turun-temurun dalam satu keluarga tertentu.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.