Summarize the post with AI

Di balik ambisi dan produktivitas, diam-diam banyak profesional terjebak dalam lingkaran kecanduan stres yang menggerus jiwa. Sebuah refleksi mendalam tentang cara kerja yang perlu kita ubah.

PUNGGAWANEWS — Semakin tinggi target, semakin cepat langkah, semakin berat rasanya bernapas. Di awal tahun yang konon penuh peluang, banyak profesional dan pengusaha memulainya dengan semangat membara—mengejar yang tertunda, menjemput harapan yang sempat hilang. Namun di tengah gelombang optimisme itu, tak sedikit yang diam-diam mulai goyah, terjebak dalam irama kerja yang cepat namun gelisah.

Fenomena inilah yang tengah menjadi perhatian serius di kalangan pakar pengembangan sumber daya manusia. Bukan sekadar soal beban kerja yang berat, melainkan tentang hilangnya kesadaran diri di tengah kepungan tekanan yang makin akut. Anehnya, justru saat paling tertekan itulah seseorang merasa paling produktif—sebuah ilusi yang kini terbukti merusak fondasi jiwa para profesional.

Saat Stres Menjadi Candu

Para ahli menjelaskan mekanisme biologis di balik fenomena ini. Ketika seseorang berada dalam tekanan, tubuh melepaskan adrenalin dan dopamin—hormon yang menciptakan sensasi hidup, waspada, dan termotivasi. Persoalannya, sensasi ini kerap disalahartikan sebagai tanda produktivitas sejati.

“Ketika tekanannya hilang, kita merasa kosong dan gelisah, lalu kita cari tekanan baru,” demikian gambaran siklus yang terbentuk. Lingkaran kecanduan ini berputar makin dalam, tanpa disadari pelakunya sendiri. Yang terjadi kemudian, bukan lagi bekerja dengan tujuan, melainkan berlari dari satu tekanan ke tekanan berikutnya.

“Tekanan bisa membuat kita terlihat hebat, tetapi kesadaranlah yang membuat kita tetap utuh.”

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________