PUNGGAWANEWS, Kajian subuh kali ini membahas beberapa persoalan penting seputar hukum puasa, kehati-hatian dalam ibadah, serta pentingnya menjaga salat di tengah tradisi Ramadan yang berkembang di masyarakat.

Pandangan Ulama tentang Hal-hal yang Membatalkan Puasa

Dalam kajian dijelaskan bahwa para ulama, termasuk rujukan dari lembaga fatwa resmi di Mesir, memiliki kaidah umum terkait pembatal puasa: masuknya sesuatu yang bersifat materi (‘ain) ke dalam tubuh melalui lubang alami seperti mulut dan hidung.

Contohnya:

  • Makanan atau minuman yang tertelan.
  • Cairan yang masuk melalui hidung.
  • Prosedur tertentu seperti suntikan yang sampai ke organ tertentu menurut sebagian pendapat.

Namun para ulama juga menekankan pentingnya kehati-hatian. Dalam diskusi yang merujuk pada pandangan Abdul Somad, disebutkan bahwa sebagian ulama mengambil sikap preventif (saddudz dzari’ah), yaitu menutup kemungkinan batalnya puasa sejak awal.

Sebagai contoh, mencicipi makanan saat memasak tetap berisiko membatalkan puasa apabila tertelan, meskipun tidak disengaja, karena ada unsur usaha menuju hal tersebut.

Kumur-kumur dan Istinsyaq Saat Puasa

Kumur-kumur (madmadah) dan memasukkan air ke hidung (istinsyaq) saat wudu tetap dianjurkan, tetapi tidak boleh berlebihan. Jika air sampai tertelan, puasa dapat batal.

Karena itu, umat Islam dianjurkan:

  • Berhati-hati saat berkumur.
  • Menghindari praktik yang berpotensi menyebabkan air masuk ke tenggorokan.

Jika puasa sudah batal, seseorang tetap wajib menahan diri hingga waktu berbuka sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan Ramadan.

Tradisi Buka Bersama dan Tantangan Menjaga Salat

Tradisi buka bersama memiliki nilai positif karena mempererat silaturahmi dan ukhuwah. Namun dalam praktiknya, sering terjadi salat Magrib justru tertunda karena terlalu fokus pada hidangan.

Dalam kajian dijelaskan bahwa dalam Islam, setiap amal harus didasarkan pada iman dan ilmu. Salat memiliki kedudukan sangat tinggi, sebagaimana dicontohkan dalam penjelasan waktu salat yang diajarkan langsung oleh malaikat Jibril kepada Muhammad.

Kitab karya Imam Malik bin Anas juga menjelaskan secara rinci tata cara dan waktu salat, menunjukkan betapa pentingnya ibadah ini.

Bahkan, dalam sejarah Islam, Abu Bakar menegaskan pentingnya menjaga salat dalam pidato awalnya sebagai khalifah.

Pesan utama kajian:

  • Buka puasa secukupnya dengan kurma dan air.
  • Segera melaksanakan salat Magrib.
  • Makan besar dilakukan setelah salat.

Makna Takjil yang Sering Disalahpahami

Secara bahasa, takjil berarti “menyegerakan”. Maksudnya adalah menyegerakan berbuka, bukan memperbanyak makanan sebelum salat.

Fenomena di Indonesia menunjukkan istilah takjil sering diartikan sebagai berbagai jenis makanan berat, sehingga justru memperlambat pelaksanaan salat.

Batas Waktu Sahur dan Kehati-hatian terhadap Adzan Subuh

Kajian juga membahas pertanyaan tentang seseorang yang masih makan atau minum ketika adzan Subuh berkumandang.

Berdasarkan penjelasan hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

  • Makan dan minum diperbolehkan sampai terbit fajar shadiq.
  • Ketika adzan Subuh telah masuk waktu, maka harus berhenti.

Konsep imsak muncul sebagai bentuk kehati-hatian, sekitar 10 menit sebelum Subuh, agar umat Islam memiliki waktu untuk bersiap.

Penjelasan tambahan juga merujuk pada keterangan ulama Mesir, termasuk Ali Gomaa, bahwa hadis tentang menyelesaikan makanan saat adzan berkaitan dengan kondisi muadzin yang mengumandangkan adzan sebelum waktu Subuh. Sementara di masa sekarang, adzan umumnya sudah tepat waktu, sehingga makan dan minum harus dihentikan ketika adzan terdengar.

Hukum Bermesraan Suami Istri Saat Puasa

Dalam kajian juga dijelaskan bahwa bermesraan antara suami dan istri di siang hari Ramadan:

  • Diperbolehkan selama tidak menimbulkan syahwat yang menyebabkan keluarnya mani.
  • Jika hanya keluar madzi atau wadi, puasa tidak batal, tetapi tetap dianjurkan menjaga kehormatan ibadah.

Para ulama mengingatkan agar umat Islam memanfaatkan Ramadan sebagai momentum meningkatkan ketakwaan, karena pada bulan ini pintu kebaikan dibuka luas.

Penutup

Kajian subuh ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga kehati-hatian dalam setiap aktivitas. Tradisi Ramadan seperti buka bersama tetap baik selama tidak mengalahkan kewajiban utama, yaitu salat.

Dengan iman, ilmu, dan sikap hati-hati, diharapkan ibadah puasa menjadi lebih berkualitas dan membawa keberkahan bagi kehidupan sehari-hari.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________