PUNGGAWANEWS, Kesepakatan tarif 0 persen untuk produk tekstil dan garmen Indonesia ke Amerika Serikat memang terdengar strategis, mengingat industri tekstil dan produk tekstil merupakan sektor padat karya yang menyerap sekitar 3,7 juta tenaga kerja langsung dan tidak langsung menurut data Kementerian Perindustrian RI dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Dengan akses pasar yang lebih murah, secara teori daya saing harga produk Indonesia akan meningkat di pasar AS.

Amerika Serikat sendiri merupakan salah satu pasar utama ekspor tekstil Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2023–2024, AS secara konsisten masuk tiga besar tujuan ekspor produk apparel Indonesia. Nilai ekspor tekstil dan produk tekstil ke AS mencapai miliaran dolar AS per tahun menurut data BPS dan UN Comtrade. Artinya, perubahan tarif memang berpotensi berdampak signifikan terhadap volume ekspor.

Namun, tarif bukan satu satunya faktor penentu daya saing. Laporan Asosiasi Pertekstilan Indonesia pada 2023–2024 menyebutkan banyak pabrik tekstil domestik beroperasi di bawah kapasitas optimal akibat tekanan impor murah dan tingginya biaya produksi, termasuk energi dan logistik. Selain itu, data World Bank dan WTO menunjukkan bahwa efisiensi rantai pasok dan produktivitas tenaga kerja menjadi variabel utama dalam daya saing global, bukan hanya tarif.

Dari sisi global, Indonesia juga bersaing ketat dengan Vietnam dan Bangladesh di pasar tekstil AS. Data U.S. International Trade Commission dan WTO menunjukkan Vietnam dan Bangladesh memiliki pangsa pasar tekstil yang sangat besar di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Vietnam bahkan diuntungkan oleh perjanjian perdagangan bebas yang memperkuat aksesnya ke pasar utama. Ini berarti Indonesia tetap harus bersaing dalam hal harga, kualitas, dan kecepatan pengiriman.

Soal kuota juga menjadi variabel penting. Dalam banyak skema perdagangan berbasis kuota, manfaatnya sering kali terkonsentrasi pada eksportir besar yang sudah memiliki jaringan dan kapasitas produksi stabil. Studi OECD tentang trade preference utilization menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan preferensi tarif sangat bergantung pada kesiapan administratif dan kepatuhan terhadap aturan asal barang. Tanpa kesiapan tersebut, fasilitas tarif rendah tidak otomatis meningkatkan ekspor.

Dalam jangka menengah, momentum ini hanya akan berdampak kuat jika dibarengi modernisasi industri. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan kebutuhan revitalisasi mesin tekstil nasional masih tinggi karena sebagian besar mesin berusia lebih dari 20 tahun. Tanpa peningkatan produktivitas dan efisiensi, keunggulan tarif bisa tergerus oleh biaya produksi yang tidak kompetitif dibanding negara pesaing.

Kesimpulannya, berdasarkan data BPS, WTO, OECD, dan laporan API, tarif 0 persen memang membuka peluang ekspor lebih luas ke AS. Namun keberhasilan jangka panjang tetap ditentukan oleh efisiensi industri, modernisasi mesin, kepastian kebijakan dalam negeri, dan kemampuan memenuhi standar pasar global. Tarif bisa membuka pintu, tetapi daya saing menentukan siapa yang benar benar masuk dan bertahan

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________