PUNGGAWANEWS, JAKARTA – Investor ritel Indonesia punya pola yang hampir selalu berulang. Saat emas naik sedikit, langsung dianggap paling bijak, aman, klasik, nggak mungkin rugi. Begitu Bitcoin terbang, FOMO berjamaah pun terjadi, lengkap dengan jargon masa depan, desentralisasi, dan kebebasan finansial. Tapi ketika bicara perak, banyak yang nyengir, seolah logam receh, nggak seksi, nggak bikin cerita heroik.

Padahal di dunia nyata, justru peraklah yang paling sibuk bekerja. Emas disimpan di brankas, Bitcoin diperdebatkan di Twitter, sementara perak dipasang di panel surya, kendaraan listrik, chip elektronik, dan teknologi medis. Dunia modern tidak hanya dibangun oleh narasi, tapi oleh material. Dan perak ada di sana.

Emas memang punya tempat terhormat. Ia adalah simbol stabilitas, lindung nilai, dan rasa aman di tengah ketidakpastian global. Tapi jujur saja, emas itu pasif. Ia tidak menggerakkan industri, tidak menopang transisi energi, dan tidak ikut mempercepat perubahan teknologi. Harga emas naik karena orang takut, takut akan inflasi, takut perang, takut krisis.

Emas tumbuh dari kecemasan. Itu bukan salah, tapi itu batasnya. Emas adalah jangkar, bukan mesin. Masalahnya, banyak investor ritel Indonesia membeli emas dengan ekspektasi yang salah, berharap lonjakan cepat, padahal fungsinya justru menahan guncangan.

_________________________________

Dapatkan Update Berita Terkini dari PUNGGAWANEWS, PUNGGAWALIFE, PUNGGAWASPORT, PUNGGAWATECH, PUNGGAWAFOOD,
Klik Disini jangan Lupa Like & Follow!
__________________________________