PUNGGAWANEWS, Di era digital, hidup kita seolah menyatu dengan layar. Dari membuka mata hingga menjelang tidur, cahaya biru ponsel menjadi teman setia. Notifikasi tak kenal waktu, grup kerja aktif 24 jam, dan rapat daring bisa muncul di sela makan malam keluarga. Bagi sebagian ASN, hal ini bukan sekadar persoalan teknologi, tapi juga soal waras: bagaimana menjaga kewarasan diri di tengah tuntutan yang tak pernah benar-benar berhenti.
ASN hari ini hidup di antara dua dunia, dunia kerja yang menuntut kecepatan dan dunia pribadi yang butuh ketenangan. Dulu, setelah jam kantor berakhir, kita bisa menutup berkas, pulang, dan benar-benar istirahat. Kini, meski sudah di rumah, pekerjaan bisa menembus ruang pribadi lewat pesan WhatsApp, e-mail, atau grup koordinasi yang seolah tak mengenal jam kerja. Di sinilah batas antara “kerja” dan “hidup” mulai kabur.
Sebagian ASN mencoba beradaptasi. Ada yang tetap membalas pesan kantor hingga larut malam demi menjaga performa. Ada juga yang mulai berani menetapkan batas, memilih mematikan notifikasi di jam tertentu. Namun di sisi lain, rasa bersalah sering muncul, takut dianggap tidak responsif atau kurang berdedikasi. Paradoks ini membuat banyak ASN bekerja secara always on, tapi lelah secara mental. Bukan hanya tubuh yang kelelahan, pikiran pun ikut jenuh.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.