PUNGGAWANEWS, Kita memulai kajian mendalam tentang pesan universal risalah Islam, yaitu tentang integritas dan keteladanan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Tema ini sangat penting, khususnya bagi para pemimpin, karena ini adalah Jalan Dunia Menuju Akhirat.
1. Perbedaan Bumi (Al-Ard) dan Dunia (Ad-Dunya)
- Bumi (Al-Ard): Merupakan setiap tempat yang kita pijak. Fungsi kita di setiap tempat pijakan adalah sebagai Khalifah.
- Makna Khalifah: Kata khalafa memiliki tiga arti inti:
- Membawa Nilai Manfaat: Di mana pun kita ditempatkan, upayakan selalu menampilkan manfaat yang dirasakan orang sekitar.
- Menghadirkan Kesuksesan: Tampilkan kemampuan maksimal untuk meraih kesuksesan tertinggi yang diamanahkan.
- Saling Menggantikan: Mengingatkan bahwa tidak ada yang abadi; posisi dan jabatan selalu berganti.
- Dunia (Ad-Dunya): Sifat yang melekat pada fungsi kehidupan kita di setiap tempat yang dipijak (Al-Ard) dengan tiga makna Khalifah. Dunia memiliki dua sifat:
- Berlangsung Cepat (Dana): Waktu berlalu sangat cepat. Jika tidak dimanfaatkan untuk menampilkan tiga makna Khalifah, yang tersisa hanyalah penyesalan.
- Rusak Alamiah: Sesuatu yang akan rusak dengan sendirinya bila tidak dirawat (baik benda maupun jabatan/fungsi).
2. Memahami Akhirat (Al-Akhirah)
- Akhir vs. Akhirat: Akhir adalah ujung yang masih membuka ruang setelahnya (seperti pintu di ujung ruangan). Akhirat adalah ujung yang betul-betul ujung dan tidak ada ruang lagi setelah itu. Sifatnya abadi dan kekal.
- Jalan kehidupan dunia ini berakhir di Akhirat. Oleh karena itu, kita memerlukan pedoman dari Sang Pencipta untuk menuntun kita menuju ujung kehidupan yang kekal dan abadi. Pedoman ini dibawa oleh para utusan Allah (Rasul).
II. 📜 Pedoman Kehidupan (Hudan) dan Konsep Ketenangan
Pedoman hidup yang dibawa para Rasul, secara umum, disebut Hudan (petunjuk). Bagi umat Islam, pedoman ini adalah Al-Qur’an.
1. Fungsi Hudan
Pedoman ini diturunkan untuk menjamin kehidupan manusia:
{Fungsi Hudan}>>>{Hidup}>>>{Tolak Ukur Sukses}
- Tolak Ukur Sukses: Jika kita konsisten mengikuti pedoman, Allah menjamin hidup kita: “Falakhoufun ‘alaihim wala hum yahzanun.” (Tidak akan pernah merasa gelisah dan tidak akan pernah merasa sedih.)
- Konsep Ketenangan: Konsep dasar kehidupan di bumi adalah tenang (Falakhoufun) dan menyenangkan (Wala Yahzanun).
- Jika tugas, aktivitas, atau rumah tangga kita tidak melahirkan ketenangan, artinya ada pedoman yang belum dibaca atau diimplementasikan secara utuh.
- Allah tidak akan pernah memberikan tugas jika tidak menilai hamba-Nya memiliki kecakapan untuk menunaikannya (Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa).
2. Inti Integritas dan Keteladanan
Dari 6.236 ayat Al-Qur’an, ada empat sifat utama yang diakumulasikan pada sosok Nabi Muhammad ﷺ dan menjadi bekal kepemimpinan serta integritas sejati:
- Fatanah (Cerdas)
- Shiddiq (Jujur)
- Amanah (Terpercaya)
- Tabligh (Menyampaikan)
Kita akan fokus pada sifat pertama, Fatanah, yang menjadi fondasi karakter.
III. 🧠 Fatanah: Kecerdasan Integral
Fatanah bukan sekadar cerdas atau pintar, melainkan kecerdasan yang menyatukan tiga kekuatan:
- Kekuatan Spiritual (Inti Jiwa)
- Kekuatan Mental (Emosi)
- Kekuatan Intelektual (Otak)
1. Inti Perintah: Nafs dan Qalbu
Hadis Nabi dan kajian neurologi (Andrew Amora, 1991) mengisyaratkan bahwa titik penentu berjalannya perilaku, integritas, dan keteladanan adalah Kalbu (jantung spiritual). Jantung memiliki sekitar 40.000 neuron saraf yang mampu mengingat dan merasakan.
- Kalbu adalah wadah (Qolbu) dari inti jiwa (Nafs) yang menjadi tempat berkumpulnya nilai-nilai karakter.
- Karakter Moral (di Nafs) $\rightarrow$ Karakter Intelektual (di Akal/Otak) $\rightarrow$ Karakter Kinerja (di Tubuh).
- Perintah datang dari Nafs dan Qalbu, yang kemudian dikonstruksikan oleh akal/otak untuk dijalankan tubuh.
2. Dua Potensi dalam Jiwa
Di dalam Nafs (inti jiwa), terdapat dua potensi yang selalu bergolak (Qolub):
| Potensi Positif (Takwa) | Potensi Negatif (Fujur) |
| Kejujuran | Kebohongan, Menipu |
| Rendah Hati (Tawadu) | Sombong, Angkuh |
| Kesabaran | Amarah |
| Membentuk Integritas & Keteladanan | Berpotensi merusak fungsi |
3. Filosofi Penyucian (Tazkiyah)
Sifat Fatanah dibangun melalui proses Penyucian Jiwa (Man Zakkaha).
{Qod Aflaha man zakkaha} (Sungguh beruntung orang yang menyucikannya)
- Aflah: Kesuksesan dan Kebahagiaan (Success and Happiness). Kita dijamin akan mudah mendapatkan sukses dan dekat pada kebahagiaan jika mampu mengolah diri dengan baik.
- Penyucian (Nyuci): Proses membuang kotoran agar yang bersih muncul.
- Filosofi: Potensi negatif (Fujur) diciptakan bukan untuk menjadikan kita buruk, tetapi agar potensi positif (Takwa) muncul.
- Amarah muncul cepat cari lawannya Sabar muncul.
- Tawaran tidak jujur muncul Cepat cari lawannya Jujur muncul.
Inti Fatanah: Kecerdasan dalam menggali potensi positif dengan cara mencari lawan dari setiap kondisi tidak ideal yang muncul. Inilah kebijaksanaan dalam merespons segala hal.
Jika seorang pemimpin mampu menguasai Fatanah ini, ia akan memiliki integritas sejati yang tidak hanya lahir dari teori, tetapi dari praktik kematangan jiwa dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Ujian-ujian tersebut adalah cara Allah menguji kematangan potensi kita menuju jalan kekal di akhirat.
Penutup:
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk memiliki Fatanah dalam menghadapi setiap tantangan, sehingga kita dapat menjadi pribadi yang berintegritas, memiliki keteladanan, dan meraih Aflah (sukses dan bahagia) di dunia hingga di akhirat kelak.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.