Ada kata yang terasa begitu akrab di telinga kita, tetapi jarang benar benar kita renungi maknanya. Mudik adalah salah satunya. Setiap tahun, jutaan orang menyebutnya dengan ringan, seolah ia hanya jadwal perjalanan, rutinitas tahunan, atau bagian dari libur panjang. Padahal di balik kata yang sederhana itu, tersimpan sejarah panjang, perubahan sosial, dan pergerakan manusia yang membentuk wajah Indonesia hari ini. Mudik bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan gerak batin yang membawa seseorang kembali ke asal, ke keluarga, ke memori yang membentuk dirinya sejak kecil.
Secara bahasa, istilah mudik sering disebut sebagai singkatan dari mulih dilik dalam bahasa Jawa yang berarti pulang sebentar. Penjelasan ini pernah disampaikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, bahwa kata tersebut berkembang dari kebiasaan masyarakat yang merantau ke kota lalu kembali ke kampung halaman untuk waktu singkat. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mudik didefinisikan sebagai kegiatan pulang ke kampung halaman. Namun para peneliti juga mencatat bahwa secara etimologis, mudik berakar dari kata udik yang berarti hulu atau wilayah yang berada di atas, merujuk pada perjalanan dari kota menuju daerah asal yang secara geografis sering berada di pedalaman. Penjelasan ini diperkuat oleh kajian dari Universitas Gadjah Mada yang menyebut bahwa tradisi kembali ke kampung telah ada sejak mobilitas masyarakat mulai meningkat di masa kolonial hingga pascakemerdekaan.
Jika ditarik lebih jauh, kebiasaan mudik tidak lahir dari budaya konsumsi modern, tetapi dari arus urbanisasi yang semakin kuat pada dekade 1970 an. Data dan penjelasan dari Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa arus perpindahan penduduk ke kota besar seperti Jakarta meningkat tajam seiring pertumbuhan industri dan lapangan kerja. Banyak orang meninggalkan desa untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Namun ikatan dengan kampung halaman tidak pernah benar benar terputus. Ketika momentum Lebaran tiba, kebutuhan untuk kembali, bukan hanya karena libur, tetapi karena dorongan emosional dan kultural, menjadi sangat kuat. Guru besar dari Universitas Padjadjaran, Prof Purnawan Basundoro, pernah menjelaskan bahwa fenomena mudik berkaitan erat dengan sejarah urbanisasi dan perpindahan penduduk pascakemerdekaan.
Di sinilah mudik berubah menjadi lebih dari sekadar perjalanan tahunan. Ia menjadi tradisi sosial yang menghubungkan kota dan desa, modernitas dan akar budaya, kesibukan dan keheningan. Mudik adalah cara masyarakat menjaga keseimbangan antara dunia kerja dan dunia keluarga. Ia menjadi ruang rekonsiliasi, tempat anak kembali menjadi anak, bukan sekadar pekerja atau pejabat. Bahkan dalam banyak penelitian sosial, tradisi mudik dipandang sebagai bentuk mempertahankan identitas kolektif, karena di tengah arus globalisasi, manusia tetap membutuhkan titik pulang yang memberi rasa memiliki.
Mungkin itulah sebabnya setiap musim mudik selalu menghadirkan cerita yang sama, kemacetan panjang, stasiun penuh, terminal yang sesak, dan wajah wajah lelah yang justru tampak bahagia. Karena yang dituju bukan hanya rumah, tetapi juga rasa. Mudik mengajarkan bahwa sejauh apapun seseorang melangkah, ada tempat yang tetap memanggilnya untuk kembali. Kata itu mungkin hanya singkatan, tetapi maknanya menyentuh lapisan terdalam kehidupan sosial kita. Ia adalah pengingat bahwa dalam kehidupan yang terus bergerak, manusia tetap membutuhkan hulu, asal, dan ruang untuk meneguhkan kembali siapa dirinya sebenarnya.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.